Bekal Mempelajari Bela Diri

Bagi saya, bela diri bukanlah santapan kaum hawa. Karenanya meski saya kagum melihat kelincahan gerak para praktisi bela diri, belum pernah sekalipun saya tertarik untuk belajar lebih jauh lagi. Sudah begitu saya juga miris mengingat teman sekolah saya dulu yang pernah sampai memar dan lebam di beberapa bagian setelah mengikuti suatu kompetisi.

Masalahnya, setelah kini saya beranjak dewasa dan menjadi ibu rumah tangga, putri bungsu saya bukan main ngototnya ingin menjadi atlet beladiri di usia muda. Karena tidak ingin melihat anak saya pulang ke rumah dalam keadaan lecet, memar ataupun membiru, saya katakan saja bahwa beladiri bukanlah pilihan tepat bagi seorang perempuan. Agak egois, memang. Melarang anak melakukan sesuatu yang ia sukai sekaligus memperdalam bakat yang layak digali.

Baru setelah mengenal Mustika Merah Delima saya sadar bahwa saya salah. Seorang ibu semestinya memberi dukungan positif sembari berdoa semoga putrinya akan tetap baik-baik saja meski di banting lawannya di atas arena. Singkat cerita saya bekalkan Mustika Merah Delima dari Asosiasi Parapsikologi Nusantara tersebut pada anak saya ini, dengan harapan agar ia mendapatkan perlindungan dan kekebalan lebih dalam mendalami cabang beladiri judo yang digandrunginya.

Hasilnya sangat menjanjikan. Perkembangan beladiri anak saya terbilang sangat cepat, saya benar-benar bangga ketika mendengar kabar bahwa ia sudah diijinkan mengikuti kompetisi regional meski masih duduk di bangku kelas satu SMA. Meskipun kadang saya sebal juga menghadapi tingkahnya yang sekarang makin keranjingan menendangi sandsack. Tapi sudahlah, saya cukup senang mendengar ceritanya tentang rasa sakit yang tak pernah ia rasakan meski dibanting jungkir-balik oleh lawannya ketika berduel di atas arena.

Ny. TH – Sulawesi