Membangun Nama Baik Keluarga

Sebagaimana budi orang tua pasti menurun pada anak-anaknya, dosa orang tua juga mau tak mau akan ikut ditanggung oleh anak cucunya pula. Bukan secara agama, tentu saja. Tapi secara sosial tetap saja iya.

Saya terlahir di tengah keluarga yang latar belakangnya kurang beruntung. Bukan kurang beruntung dalam artian hidup kami kekurangan secara finansial, tapi kurang beruntung karena ayah saya merupakan seorang mantan narapidana. Meski masa hukumannya telah berakhir lima tahun silam, orang-orang di sekeliling kami tetap mengganggap ayah sebagai perampok dan penjarah. Tak pelak, kami anak-anaknya pun dicap sebagai anak yang dibesarkan dari hasil rampokan.

Untungnya saya sempat berkenalan dengan Kang Masrukhan melalui situs www.parapsikologi.com yang dinaungi oleh institusi beliau, Asosiasi Parapsikologi Nusantara. Dari sana kami berkenalan dan mulai menjalin hubungan sebagai seorang guru spiritual dan anak didiknya. Dalam perjalanannya, Kang Masrukhan menyarankan agar saya menggunakan Mustika Merah Delima. Sekedar untuk menguatkan iman saya menghadapi anggapan miring dari masyarakat yang tidak mungkin saya kesampingkan.

Alhamdulillah, tuah Mustika Merah Delima memang patut diacungi jempol. Perlahan namun pasti orang mulai melupakan kesalahan masa lalu orang tua kami. Keaktifan kami sekeluarga dalam acara-acara kemasyarakatan sedikit demi sedikit membuat orang sadar bahwa apa yang dilakukan orang tua tidak berarti akan dilakukan juga oleh anak-anaknya. Malah orang semakin mengerti bahwa berada di posisi kami tidaklah mudah, harus menanggung anggapan buruk yang bukan berasal dari perbuatan kami sendiri.

Perubahan besar ini tentu tak terlepas dari campur tangan Kang Masrukhan sebagai guru spiritual saya. Terima kasih banyak, Kang!

U. Ali – Kalimantan Barat